Senin, 26 Januari 2009

Borobudur Bukan Sekedar Objek Wisata

Disadur oleh Obat Herbal.
Terasa kurang lengkap menyaksikan keindahan serta kemegahan Candi Borobudur apabila tidak menjelajahi secara lebih mendalam sejarah eksotis candi tua yang telah berumur ratusan tahun tesebut. Kemegahan relief-relief bangunan yang melatari keberadaan candi tersebut sampai saat ini masih belum ditemukan tandingannya.
Relief-relief tersebut mengisahkan legenda Ramayana dan cerita Jetaka. Di sisi lain relief-relief itu adalah pengejawantahan kondisi sosial-kultural masyarakat Jawa selama ribuan tahun. Relief yang berganbar layar, merupakan representasi perkembangan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergoota (Semarang).
Dalam prasasti Kayumwungan, tercatat bangunan candi itu berhasil diselesaikan pada 26 Mei 824 M, tepatnya pada kekuasaan putri Raja Samaratungga bernama Ratu Pramudawardhani yang dipercaya sebagai keturunan Wangsa Syailendra. Sementara itu nama Borobudur sendiri berasal dari dua kata yang sengaja diadaptasikan, yaitu 'bara' dan 'beduhur'. Dalam Bahasa Sansekerta 'bara' mengandung makna candi atau biara dan 'beduhur' berarti tinggi. Yang dalam Bahasa Bali berati di atas. Secara esnsif hal itu adalah penghormatan masyarakat Jawa klasik terhadap keberadaan candi tersebut yang diejawantahkan dengan nama Borobudur.
Teratai Mengapung.
Laretna T Adhisakti, ketua Jogja Heritage Society, mengatakan awan yang mengelilingi laksana air, sedangkan Borobudur ibarat bunga teratai yang terapung. Teratai yang mengapung adalah penisbatan hirarki perkembangan kejiwaan dan spiritualitas manusia dalam menjalani tahapan kehidupannya. Bunga teratai dalam pemahaman masyarakat Jawa yang masih taat menganut ajaran Agama Hindu-Budha, mempunyai deretan makna yang sangat bertalian erat dengan dimensi kehidupan manusia, baik dalam interaksi sosial maupun dalam wujud pengalaman transendental.
Dalam ajaran tersebut dijelaskan, akr teratai adalah simbol, Kamadhatu yaitu tahapan materialistis atau tahapan yang pertama dilalui manusia dalam menata kehidupan di dunia. Sementara itu air yang menggenangi bunga teratai merupakan tahapan yang dikenal dengan sebutan Rupadhatu, saat manusia mulai mendalami segenap pengalaman hidupnya, baik yang bersifat empiris maupun mistis.
Arupadhatu yang disimbolkan dengan kelopak bunga adalah tahapan tertinggi yang harus digapai manusia, yaitu tingkat jiwa yang sudah tercerahkan. Tahapan-tahapan tersebut adalah ajaran-ajaran Hindu-Budha yang masih terpahat sempurna di relief-relief Candi Borobudur. Secara simplifikatif candi tersebut tidak semata-mata mengandung nilai-nilai kemegahan, melainkan juga sarat dengan ajaran-ajaran Sang Budha.
Apabila ingin mengetahui secara lebih jelas dan detail kisah-kisah dan ajaran-ajaran bijak yang terpahat pada relief tersebut, hendaklah membaca mengikuti arah jarum jam, atau dikenal dengan sebutan Mapradaksina, yang diapdosi dari Bahasa Sansekerta 'daksina' yang mempunyai arti timur.
Sayangnya, seiring perkembangan jaman, banyak orang berkesan apatis dengan keagungan makna dari bentuk kemegahan candi itu. Implikasinya, Borobudur saat ini murni menjadi tempat wisata yang semakin redup sakralitasnya.
Orang-orang berbondong-bondong menaiki stupa yang seharusnya tidak boleh dinaiki. Tumpukan sampah berserakan di area bangunan candi. Hal itu adalah indikasi lemahnya kesadaran berbudaya masyarakat Indonesia. Tidak heran jika kemudian Borobudur tidak lagi tercatat sebagai tujuh keajaiban dunia (world wonder heritages).
Kecerobohan Masyarakat.
Gagalnya Borobudur masuk sebagai nominasi tujuh keajaiban dunia, sebenarnya disebabkan oleh keteledoran dan kecerobohan masyarakatnya sendiri. Tempat suci yang sangat disakralkan dan sarat dengan kandungan makna sejarah itu seharusnya dirawat dengan serius. Bukan dijadikan sebagai objek wisata yang hampa akan kandungan makna. Beberapa unsur yang meliputi keberadaan candi tersebut seharusnya juga dieksplorasi dengan begitu serius.
Ketidakseriusan dan ketidakbecusan masyarakat Indonesia dalam menjaga dan merawat keberadaan candi tersebut, terekam dari beberapa kasus. Pertama, menyangkut kebersihan. Kedua, berkait dengan wisatawan Indonesia sendiri yang masih gemar menaiki stupa. Hal itu secara tidak langsung, sengaja ingin mmenciptakan borok pada peninggalan kebudayaan leluhur sendiri.
Pentingnya memugar kembali kesadaran berbudaya tidak semata-mata untuk menjaga dan merawat peninggalan kebudayaan purbakala dari bentuk fisiknya semata, tapi juga upaya untuk kembali mengobarkan esensi ajaran suci yang terpahat dalam peninggalan kebudayaan tersebut merupakan agenda utama yang seharusnya sudah dilakukan sejak saat ini. Sederhananya merawt Candi Borobudur tidak semata-mata menjaganya dalam bentuk fisik, namun juga ajaran-ajaran bijak yang tercover dalam setiap relief dan beberapa simbol lainnya.
Ironis, jika Candi Borobudur selaku tabir kebudayaan Mataram Kuno di tanah Jawa, ternyata hanya dijadikan objek wisata yang hampa kan kandungan makna. Menyaksikan keindahan serta kemegahan bangunan Candi Borobudur yang diapit oleh delapan gunung di sekitarnya - Gunung Menoreh, Sumbing, Sindoro, Tidar, Andong, Telomoyo, Merbabu dan Merapi - tidak cukup dari kemegahan fisik semata. Patut ditegaskan, Candi Borobudur pada dasrnya tidak hanya sebatas pajangan sejarah yang tercipta berdasarkan insur kebetulan. Banyak sisi-sisi eksoktik yang terpendam di dalamnya, meliputi ketajaman rohani, spiritualitas dan peran manusia di bumi ini berdasar konsep Budhisme.
Hal itu seharusnya juga mendapatkan perhatian yang serius dari para pengunjung dan wisatawan agar tidak terulang lagi kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan atau menaiki stupa untuk sekedar memejengkan diri dari jepretan kamera. (Mohamad Zainudin, pemerhati kebudayaan lokal pada Center for Cultural Research (CCR), Adab, UIN Sunan Kalijaga Jogjakrta - Suara Merdeka).

1 komentar:

  1. saya setuju dengan penulis. Memang benar, sayang sekali, banyak orang Indonesia zaman sekarang, hanya menganggap borobudur sbg tempat wisata. padahal, sebenarnya, borobudur punya banyak cerita-cerita bermakna yang disimbolkan melalui gambar-gambar di balok-balok batu yang disusun di dinding candi.
    ironisnya, banyak orang sekarang pergi ke candi borobudur hanya untuk jalan-jalan dan ambil foto di sana-sini.
    seandainya mereka tahu (atau diberi tahu) makna dari cerita-cerita pada gambar-gambar dinding candi itu, mereka pasti akan jauh lebih menghargai dan memeliharanya.

    BalasHapus